Kenangan saat mengikuti mata kuliah "regenerasi kota" di studi S1 15 tahun lalu masih terekam jelas di ingatan saya. Sejak itu, saya punya ketertarikan khusus pada topik regenerasi kota, diantaranya dua studi kasus yang sering disebutkan dalam literatur yaitu regenerasi Canary Wharf di London dan Albert Dock di Inggris. Siapa sangka, satu dekade kemudian, perjalanan studi membawa saya ke Inggris untuk melihat langsung monumen produk regenerasi kota ini. Kali ini saya akan membahas secara singkat khususnya mengenai regenerasi Albert Dock.
Menelusuri sejarahnya, Albert Dock bukan sekadar pelabuhan biasa. Sejak resmi beroperasi pada abad ke-19, kawasan ini berdiri sebagai simbol ambisi kota Liverpool. Dengan desain konstruksi yang sangat modern pada zamannya, pelabuhan ini menjadi gerbang utama bagi kapal-kapal pengangkut komoditas global yang menuju jantung Britania Raya. Memasuki abad ke-20, peran strategisnya pun semakin meningkat; salah satunya saat menjelang Perang Dunia II, dimana Albert Dock bertransformasi menjadi salah satu pusat komando Angkatan Laut Inggris yang krusial.
Namun, kejayaan tersebut perlahan meredup seiring perang yang terjadi. Kawasan ini menjadi sasaran empuk serangan udara tentara Jerman (Blitz), yang mengakibatkan kerusakan masif pada infrastruktur dan bangunan gudangnya. Selain hantaman fisik, faktor ekonomi global turut memperparah keadaan. Dinamika politik dan perang sipil yang terjadi di benua Amerika menyebabkan perubahan tren perdagangan via laut secara global. Terjadi penurunan arus pelayaran di jalur Segitiga Transatlantik (Eropa-Amerika-Afrika), yang membuat pelabuhan ini kehilangan relevansinya. Satu per satu gudang mulai kosong, hingga akhirnya pada tahun 1972, Albert Dock dinyatakan tutup total dan jatuh ke dalam periode degradasi yang kelam.
Melihat aset bersejarah yang terbengkalai, pemerintah Inggris tidak tinggal diam. Pada tahun 1984, sebuah inisiatif regenerasipun diluncurkan. Tujuannya ambisius: mengembalikan fungsi Albert Dock sebagai ikon kebanggaan Liverpool. Strategi yang diambil bukan sekadar perbaikan fisik, melainkan melalui skema investasi yang melibatkan kolaborasi antara sektor publik dan swasta.
Transformasi ini terbukti revolusioner. Gudang-gudang bata merah yang dulunya kusam dan ditinggalkan, kini disulap menjadi pusat kreativitas dan edukasi. Bangunan-bangunan bersejarah tersebut kini menjadi rumah bagi institusi budaya kelas dunia, seperti galeri seni Tate Liverpool, Maritime Museum, International Slavery Museum, hingga The Beatles Story Museum yang menjadi magnet bagi para penggemar musik dari seluruh dunia.
Kini, Albert Dock telah sepenuhnya lahir kembali. Selain menjadi pusat kebudayaan, kawasan ini menjelma menjadi ruang sosial yang hidup dengan kehadiran bar dan restoran premium yang selalu dipadati pengunjung, terutama di akhir pekan. Atmosfernya yang unik—perpaduan antara arsitektur industrial klasik dan gaya hidup modern—menjadikan tempat ini sebagai destinasi yang paling banyak dikunjungi wisatawan di Inggris di luar kota London.
Keberhasilan regenerasi ini mendapatkan pengakuan tertinggi di tingkat internasional ketika UNESCO menetapkan Albert Dock sebagai bagian dari World Heritage Site. Bagi saya, berdiri di antara bangunan-bangunan ini bukan sekadar kunjungan wisata, melainkan sebuah validasi nyata bahwa dengan visi yang tepat dan strategi regenerasi yang matang, kawasan yang hampir terlupakan bisa kembali menjadi detak jantung sebuah kota.
Sumber: Penulis
Ditulis oleh Hafi Munirwan, akademisi tata kota ITERA dan pendiri platform BicaraKota (www.linktr.ee/bicarakota).



